Rabu, 16 Mei 2012

http://erikatzain.wordpress.com/2011/10/05/menanti-cinta-yang-halal/

Menanti Cinta Yang Halal

Tak ada yang bisa menyangkal, bahwa tidak ada seorang pun yang steril dari yang namanya cinta. Meski ia telah setingkat da’i atau da’iyah. Tak ada yang bisa mencegah datang virus itu, seperti sanandung puisi berikut:
Cinta……. Menembus ruang dan batas Menggelora, meradang dan mematikan
Kala cinta merasuk sukma, membekukan akal, menghempas rasa jika tidak karena-Nya
Kemana kan dibawa lari sekeping hati pecinta??
Kita akan bicara tentang cinta.  Sesuatu yang Allah tanamkan fitrahnya pada setiap jiwa. Tapi alangkah hinanya bagi pecinta yang terbelenggu oleh cintanya. Duhai saudariku……. Mencintai itu adalah kewajaran……..!!! Apalagi bagi seorang wanita yang telah memasuki usia dimana kebutuhan kasih sayang dan penjagaan dari seorang lelaki sudah sangat dirindukannya. Tapi ingatlah wahai sahabatku, janganlah engkau tanggalkan kehormatanmu dengan mengumbarnya di antara manusia. Dengan cara apapun, dengan dalih apapun, dengan susunan kata semanis apapun, sekuat apapun dorongannya jangan engkau tertipu oleh rayuan syaetan.
Betapa senangnya syaetan bila manusia telath terkena panahnya. Panah yang akan membuat manusia mabuk cinta dan menjadikan halal segala cara apapun untuk mendapatkannya. Maka jadilah sms merah jambu, surat-surat cinta, dan lainnya yang padahal bisa jadi syaetan telah mengemasnya menjadi kemasan yang akan mengundang kemurkaan Allah.
Saudariku….. Bersabarlah di saat malam gelap gulita membekap. Bersabarlah di antara sujud panjangmu, di antara harap dan do’amu kepada Allah dengan kedatangan pangeran yang akan menjemputmu. Bersabarlah terus di antara dua lelehan air matamu karena berharap yang terbaik dariNya. Sungguh itu lebih baik bagimu dan yang lebih Allah ridhoi daripada selainnya. Walaupun sulit, terasa berat, tidak tahan menunggu kepastiannya, namun tetaplah seperti itu, sabar, sabar dalam penantianmu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang terbaik bagimu. Bukankah janji Allah sudah jelas:
”dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” {QS. An Nuur : 26}
Terasa sulit memang….. hati itu terkadang begitu cepat berbolak balik. Terkadang ia kuat bagai benteng kokoh, tapi sering pula ia rapuh bak rumah kardus di bawah kolong jembatan. Di satu sisi kita senantiasa menginginkan tunduk pada perintah-perintah Allah, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki didi dari hari ke hari. Namun, di sisi lain, syaetan senantiasa bergerak dan bekerja untuk menggoda manusia. Sehingga terkadang dalam penantian panjang ini ada kalnya terselip pandangan yang belum halal, ada perkataan yang belum halal, ada usaha mencari perhatian yang belum halal.
Saudariku….. Saat ini, di tengah malam ini mari kita tengok jendela- jendela yang terbuka. Di atas ribuah sajadah, bersimpuh wanita-wanita yang sedang merindu. Tetesan-tetesan air mata mereka terus membasahi bumi, air mata mujahidah yang sangat takut tergelincir kepada kemaksiatan. Berjuta sorotan mata yang hanya ditujukan kepadaNya. Dan engkau ….., apakah engkau termasuk bagian dari wanita bersimpuh itu, sabarlah.
Benar, tidak mudah. Tapi tidak ada yang salah dengan janjiNya. JanjiNya adalah keniscayaan terindah, walau itu harus kau tebus dengan kesabaran yang berpeluh kesah. Janganlah lelah memuliakan dirimu. Bukan untuk dia, bukan untuk dirimu sendiri. Tapi semata hanya untuk Rabbmu. Sungguh itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Maha Benar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa engkau perlu teriaki, dia telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut RabbNya, yang disampaikan kepada hamba terkasih dan utusanNya.
“Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian, hendaklah ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dari menjaga……”(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)
Lelaki yang senantiasa menjaga kehormatan itu pasti akan datang, lelaki yang setiap malam engkau tangisi itu pasti akan mengetuk pintu rumahmu, lelaki yang akan menjaga kehormtan yang senantiasa engkau jaga itu pasti akan menjemputmu dengan kesederhanaan dan senyuman terindah yang tetulus dari hatinya, lelaki yang akan menemanimu sholat di malam hari, menasehatimu di kala senang dan menghiburmu di kala sedih. Adakah itu yang engkau harapkan wahai saudariku….??? Ataukah lelaki itu masih engkau harapkan datang dari kemaksiatanmu kepada Allah dan lebih dicintai oleh syaetan…..???

Cinta Seorang Pendakwah

Jatuh cinta bagi seorang aktivis dakwah bukanlah perkara biasa. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang pengembangan pergerakan. Menurut konteks pembinaan, jatuh cinta  adalah naik marhalah. Konteks keimanan pula, jatuh cinta pula adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah SAW dan jalan meraih reda Allah.
Maka persoalannya bukan pada bagaimana memilih seseorang yang paling cantik atau yang paling tampan, melainkan seseorang yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidup. Seseorang yang tahu bagaimana mengemudi bahtera rumah tangga agar selalu dalam bingkai keluarga daie.
Oleh kerana sejak awal meniti jalan menuju perkahwinan harus dimulai dengan niat yang benar usaha yang dilakukan pun juga benar dan tidak melanggar syariat. Tidak perlu ada percintaan Islamik, tunangan syarie dan menggantung status.
Kata – kata, “Awak, tunggulah saya. Saya akan mengahwini awak dua tahun lagi”  tidak perlu ada. Sebab kata-kata ini tidak mengandungi kejelasan. Ia hanya menjanjikan sesuatu yang  tidak pasti. Pada hakikatnya dia pun juga tidak  perlu berjanji seperti ini. Janji ini seolah-olah tanda jadi atau pengikat, padahal ia buknn seperti itu. Ia hanyalah pelega dan syurga telingan sahaja. Ini kerana janji berkahwin dua tahun lagi tidaklah dapat dikatakan sebagai sebuah niat proses perkahwinan secara syarie
Kita juga tidak perlu menggantung status sebuah hubungan. Lelaki dan wanita apabila mereka merasa sudah sangat dekat dan sangat akrab akan sering mencurah rasa hati, bertukar pendapat dan diskusi. Mereka saling memberi harapan, tapi mereka tidak mahu disebut sebagai sedanng bercinta. Hubungan hati  mereka sudah selayaknya dua sejoli, tapi mereka  menolak disebut percintaan. Mereka lebih selesa dengan gelaran BFF atau penuhnya, Best Friend Forever. Hubungan seperti inilah yang sering kita sebut hubungan menggantung, tergantung dan tidak jelas. Si lelaki tak berani untuk jujur berkata ingin berkahwin dan wanita pun malah menikmati hubungan itu.
Jadi sebaiknya sebagai  seorang pendakwah segala sesuatu harus dijadikan teladan. Bagaimana diri kita menjadi contoh yang baik bagi masyarakatnya. Tidak perlu percintaan Islamik, tidak perlu membuat janji, tidak perlu menyeksa wanita dengan hubungan yang tidak jelas statusnya. Bila memang ingin berkahwin maka tekan minyak. Namun bila tidak mahu silakan tekan pedal brek sekuatnya, dan lepaskan bila kita sudah merasa bersedia segalanya.
Siapakah pendakwah-pendakwah itu?
Jawapannya, kita semua.. :)
Source: www.akuislam.com

Minggu, 06 Mei 2012

Surat Kepada Bidadari

dakwatuna.com - Teruntuk adinda yang masih berupa tanda tanya…

Maaf Bidadariku… jika aku terlambat menjemputmu. Namun sampaikah pesan yang kutitipkan pada angin di tepi sunyi kala itu? Tentang sebongkah rindu yang tak mampu lagi kuredam dalam kalbu. Tentang segenggam peluh yang menguap atas letihku, demi menyambut lentik cantik jemarimu.

Maaf Bidadariku… jika aku tak segera mengejarmu. Itu bukan karena ku tak mampu atau bahkan tak peduli pada detik yang terus memburu. Tapi karena kutahu, indahnya pertemuan bukan terletak pada percepatan waktu, apalagi dengan lamanya menunggu. Aku hanya tak mau mataku buta, sehingga tak mampu lagi membedakan mana cinta dan mana bencana.

Maaf Bidadariku… jika aku membiarkanmu berlalu. Aku hanya tak ingin mengajakmu terbang, sementara sayapmu masih dapat berkembang. Kubiarkan engkau untuk terus maju, hingga nanti kita bisa bersama mengukir sejarah baru tanpa banyak berseteru.

Maaf Bidadariku… jika aku masih saja terpaku. Ada banyak rahasia yang masih belum bisa kumengerti, mengingat hatimu serupa lautan misteri yang tak berkesudahan untuk diselami. Beri aku sedikit waktu, agar aku pandai meramu, hingga senantiasa kusemai cahaya dari jelita wajahmu.

Maaf Bidadariku… jika aku membuatmu menunggu. Namun bukankah penantian itu menjadi bukti nyata adanya perjuangan? Bukankah perjuangan itu menjadi bukti nyata adanya cinta? Maka biarkanlah waktu yang akan menyibak semua tanya, kapan kita bertemu dan bagaimana kita bersatu.

Sabtu, 05 Mei 2012

Cinta mu, cinta q, masa depan qt

Berharaplah hanya kepada Allah agar orang yang telah menumbuhkan bijih cinta di hatimu itu adalah manusia pilihan yang memang disiapkan Allah untukmu. Sabarlah dalam penantian, jadikan Allah teman setia dalam penantian. Kelak ketika tiba saatnya harus bersama maka engkau akan mendapati indahnya surga dunia dalam keseharianmu sampai Allah memisahkan melalui takdirnya.